Header Ads

87 Tahun PSSI, Mengenang Jasa Sang Insinyur

KARBOL_ID - Hari ini rabu (19/04/2017) tepat 87 tahun sudah organisasi yang menjadi induk sepak bola Indonesia berdiri. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau yang lebih kita kenal dengan nama PSSI. Bicara tentang PSSI berarti kita bicara tentang salah satu tokoh yang menjadi alasan berdirinya PSSI, tokoh yang mengorbankan jiwa dan raganya demi oraganisasi yang sangat ia cintai PSSI, organisasi besar yang menjadi salah satu wadah perjuangan bangsa pada saat itu, ya,  Ir. Soeratin Sosrosoegondo.

Lahir di Yogyakarta pada 17 Desember 1898, beliau lahir dari kalangan terpelajar. Ayahnya, R. Soesrosoegondo, adalah guru pada Kweekschool (Sekolah Keguruan), dan juga penulis buku Bausastra Bahasa Jawi. Istrinya, R.A. Srie Woelan, adik kandung Dr. Soetomo, pendiri Budi Utomo. Soeratin muda lulus dari Koningen Wilhelmina School (KWS) di Jakarta pada tahun 1920, kemudaian beliau melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Teknik di Hecklenburg, Jerman, pada tahun 1920 dan lulus sebagai insinyur sipil pada tahun 1927.

Sekembalinya ke tanah air beliau bergabung dengan salah satu perusahaan konstruksi milik belanda bernama Bouwkundig Bureu Sitsen en Lausada di Yogyakarta. Digaji tinggi sebesar 1.000 gulden beliau merupakan satu-satunya pribumi yang dapat berdiri sejajar dengan para petinggi perusahaan itu, ia juga beberapa kali turut andil dalam membangun beberapa infrastruktur di Nusantara, seperti membangun jembatan dan gedung di Tegal dan Bandung.

Mendirikan PSSI
Soeratin dikenal sebagai sosok yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi, ditengah taktik devide et impera (politik memecah belah) yang diterapkan Belanda pada masa itu dan untuk mewujudkan realisasi konkret dari kongres sumpah pemuda pada tahun 1928, Soeratin mencoba menelurkan gagasan bahwa membangun semangat nasionalisme dan kehormatan bangsa bukan hanya tentang mengangkat senjata semanta melainkan dapat diwujudkan dengan cara dan media yang berbeda yakni dengan olahraga dan lebih tepatnya melalui sepak bola.

Sama halnya dengan iparnya, Dr Soetomo, yang berkeliling Pulau Jawa untuk menemui banyak tokoh dalam rangka menekankan pentingnya pendidikan dan kemudian disusul dengan pendirian Budi Utomo, Soeratin melakukan pertemuan dengan tokoh sepak bola pribumi di Solo, Yogyakarta, Magelang, Jakarta, dan Bandung. Pertemuan itu diadakan secara sembunyi untuk menghindari sergapan Intel Belanda (PID). Pada 19 April 1930, berkumpulah wakil-wakil pengurus sepak bola dari beberapa kota di Yogyakarta. Dari pertemuan itulah terbentuklah Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) sekaligus menasbihkan Ir. Soeratin sebagai ketua PSSI yang pertama. Istilah "sepakraga" diganti dengan "sepak bola" pada Kongres PSSI di Solo pada 1950.

PSSI kemudian melakukan kompetisi secara rutin sejak 1931, dan ada instruksi lisan yang diberikan kepada para pengurus, jika bertanding melawan klub Belanda tidak boleh kalah. Soeratin menjadi ketua umum organisasi ini 11 kali berturut-turut. Setiap tahun ia terpilih kembali.

Masa-masa sulit
Kegiatannya bersama PSSI dan juga mulai digulirkannya kompetisi rutin pada 1931, membuat ia harus dihadapkan pada dua pilihan tetap bebekrja diperusahaan Belanda atau keluar dan berfokus pada kepengurusannya di PSSI, kondisi ini memang bukan kondisi yang sederhana jika ia keluar bukan hanya akan berimbas pada kondisi finansial dirinya dan keluarganya namun juga akan berimbas pada asupan dana bagi PSSI berkurang.

Dititik inilah pertaruhan antara nasionalisme dan kehidupan keluarganya, hanya satu tujuannya ia hanya ingin sepak bola dapat menjadi wadah untuk membangun bangsa dan melalui sepak bola Indonesia dapat berdiri dan tidak menjadi pencundang diantara negara didunia.

Pilihannya tepat, Pada 1938 Indonesia lolos ke Piala Dunia. Sejumlah negara seperti Jepang, China, dan Hongkong, hingga dataran Korea pun bertekuk lutut oleh talenta Indonesia yang waktu itu masih memakai nama East Indies. Indonesia kemudian dapat unjuk gigi di pentas dunia, karena mampu menjadi pionir bagi Asia untuk mengenal sepak bola. Pengiriman kesebelasan Indonesia (Hindia Belanda) sempat mengalami hambatan,  NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau organisasi sepak bola Belanda di Jakarta bersitegang dengan PSSI yang telah berdiri pada bulan April 1930. Soeratin sebagai ketua PSSI ingin pemain PSSI yang dikirimkan. Namun, akhirnya kesebelasan dikirimkan tanpa mengikutsertakan pemain PSSI dan menggunakan bendera NIVU yang diakui FIFA.

Pada 1940, Soeratin pindah tugas ke kampung halamannya di Bandung dan jabatannya sebagai Ketua PSSI diambil alih oleh Artono Martosoewignyo. Pada masa itu kehidupan Soeratin menjadi sangat sulit . Rumahnya sempat diobrak-abrik tentara Belanda, karena beliau aktif dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dianggap musuh oleh Belanda. Hingga pada masa tuanya pengabdian beliau kepada bangsa tidak pernah surut pada tahun 1949 beliau sempat memimpin Djawatan Kereta Api (DKA),  namun kondisi tubuh yang semakin renta apalagi perjuagan fisik melawan Belanda terus berlangsung. Setelah berjuang melawan penyakit dimasa tuanya bahkan beliau sampai tidak dapat menebus obat, pada 1 Desember 1959 beliau meniggal dengan tenang dalam kondisi sulit.

Kini 87 tahun sudah PSSI berdiri, usia yang sangat matang bagi sebuah organisasi, dalam keadaan sepak bola Indonesia yang sedang tertatih setelah sanksi FIFA, semoga tidak ada lagi kisruh berkepanjangan yang berujung pada sanksi FIFA dan tentunya merugikan banyak pihak, dan bagi penikmat sepak bola Indonesia kematangan ini menjadikan kedewasaan bagi para penikmat sepak bola tidak ada lagi kerusuhan yang mengatasnamakan kelompok suporter dan akhirnya membawa kerugian. tidak ada lagi rasisme dalam sepak bola.

Terima kasih Ir. Soeratin, engkau memang sudah tiada namun perjuanganmu, semangatmu dan karyamu akan tetap dikenang. Semoga dengan semangatmu akan membawa angin perubahan bagi sepak bola Indonesia kearah yang lebih baik. Semoga semangatmu akan menjadi pengingat bagi semua publik sepak bola Indonesia bahwa tujuanmu adalah menjadikan sepak bola sebagai wadah pemersatu bangsa.

No comments

Powered by Blogger.